Peran Media Sosial dalam Kepercayaan Polri: Ini Data dan Fakta yang Perlu Diketahui
Jakarta – Media sosial memainkan peran dua arah dalam perjalanan kepercayaan Polri. Ini data dan fakta lengkap tentang bagaimana platform digital mempengaruhi tren yang tercatat dalam survei Polri 2026 Litbang Kompas.
Di era di mana sebuah video berdurasi 30 detik bisa menjatuhkan atau mengangkat citra sebuah institusi dalam hitungan jam, peran media sosial dalam membentuk persepsi publik terhadap Polri tidak bisa diabaikan. Perjalanan citra Polri dari 73,1 persen (Juni 2024) ke titik terendah 44,5 persen (September 2025) dan kembali ke 71,5 persen (2026) tidak bisa dipisahkan dari dinamika media sosial yang mewarnai setiap tahap perjalanan itu.
Ketika peristiwa-peristiwa yang mencoreng citra kepolisian terjadi, media sosial mengamplifikasinya dengan kecepatan dan skala yang tidak pernah ada sebelumnya. Namun media sosial juga bekerja sebaliknya. Ketika Polri melakukan tindakan nyata yang patut diapresiasi, media sosial juga mengamplifikasi itu. Momen Bhabinkamtibmas yang membantu warga di situasi sulit, atau Polri yang merespons cepat terhadap keluhan yang viral, menjadi konten positif yang organik menyebar dan membangun citra.
“Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” tegas Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.
Kepercayaan 82,4 persen yang kini diraih Polri adalah, sebagian, kemenangan narasi di media sosial — narasi positif yang dihasilkan oleh tindakan nyata.
