Premanisme vs Polri: Data Pengungkapan, Dampak bagi Pedagang, dan PR yang Belum Selesai
Jakarta – Data premanisme vs Polri: seberapa besar kemajuan yang sudah dicapai dan seberapa besar PR yang belum selesai? Analisis lengkap berdasarkan survei Polri 2026 Litbang Kompas dan data operasional terbaru.
Dari semua tantangan yang disebut Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni sebagai pekerjaan rumah Polri, pemberantasan premanisme mungkin yang paling langsung dirasakan oleh masyarakat kecil dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bukan karena ia adalah kejahatan terbesar, tetapi karena ia adalah yang paling dekat — di pasar, di terminal, di lingkungan pemukiman, di tempat usaha kecil.
Premanisme dalam berbagai bentuknya menciptakan beban ekonomi yang nyata bagi kelompok masyarakat yang paling tidak mampu menanggungnya. Pengungkapan dan penindakan premanisme yang efektif oleh Polri adalah bentuk perlindungan ekonomi bagi masyarakat kecil yang nilainya melampaui statistik. Ketika satu kawasan berhasil dibersihkan dari premanisme, puluhan atau ratusan pedagang kecil di kawasan itu mendapatkan kembali margin keuntungan yang selama ini tersedot.
“Ke depan harus lebih baik lagi, capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, profesionalisme, dan kedekatan dengan masyarakat,” tegas Ahmad Sahroni kepada wartawan, Jumat (26/6/2026).
“Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” tegas Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.
