Tuesday, 11 August 2026
Nasional

Senyum di Loket, Tanda Tanya di Dunia Maya: Polri Dipuji Soal Layanan tapi Disoal Soal Kejahatan Digital

Ada paradoks yang menarik dalam kepercayaan publik Polri yang kini mencapai 82,4 persen dalam survei Polri 2026 Litbang Kompas. Di loket pelayanan, warga semakin puas. Di dunia maya, kejahatan terus berevolusi dengan modus yang semakin canggih dan korban yang semakin banyak. Dua dunia, dua realitas.

Kejahatan digital tidak mengenal batas wilayah hukum konvensional. Judi online, penipuan siber, pornografi digital, pencucian uang melalui platform digital, hingga perjudian berkedok aplikasi hiburan — semuanya membutuhkan kapasitas investigasi yang berbeda dari kejahatan konvensional. Pengungkapan jaringan HOT51 oleh Polda Metro Jaya dengan perputaran dana hampir Rp 560 miliar adalah bukti bahwa Polri sudah mulai bergerak ke arah ini, namun skala ancaman yang dihadapi masih jauh lebih besar.

Transformasi Polri menuju institusi yang efektif melawan kejahatan digital membutuhkan investasi besar dalam kapasitas sumber daya manusia, infrastruktur teknologi, dan kerangka hukum yang mendukung. Kepercayaan publik yang tinggi memberikan legitimasi untuk melakukan transformasi itu — namun legitimasi tanpa kapasitas tidak akan menghasilkan perubahan nyata.

Ke depan harus lebih baik lagi, capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, profesionalisme, dan kedekatan dengan masyarakat, tegas Ahmad Sahroni kepada wartawan, Jumat (26/6/2026).

Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, inovasi, serta transformasi pelayanan yang berkelanjutan, tambah Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.

Berita Terkait